Waktu sudah menjelang malam waktu CNN Indonesia berhasil menghubungi Profesor Sangkot Marzuki. Sangkot, 77 tahun, sedang berada di Sydney, Australia yang jadi rumah keduanya sejak menyelesaikan jabatan sebagai direktur Lembaga Biomolekuler Eijkman (LBM) Eijkman antara 1992-2014. Pertautannya dengan Eijkman dimulai ketika dunia sedang dilanda keriuhan akibat kemajuan ilmu genomic pada tahun 1990. Menteri Riset dan Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie saat itu merasa bidang ini penting dikuasai Indonesia. Ia memimpikan suatu saat Jakarta bisa menjadi salah satu terminal (hub) industri bioteknologi. Pilihan jatuh pada Sangkot yang saat itu menjadi Associate Professor di Universitas Monash, Australia. Sangkot meneliti isu biogenesis dari energi dan penyakit yang terkait kelainan genetika dan mengepalai Lab Biologi Molekuler milik Monash.